Semua Perempuan itu Cantik, yang Membedakan hanya Personality dan Pola Pikir

Info Negeri – Pandangan orang terhadap kecantikan memang berbeda-beda, ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Termasuk punya badan ‘berisi’ atau memilih gundul tanpa rambut karena merasa nyaman. Tapi, adakalanya ada yang enggak mau bilang mereka cantik karena tak sesuai standar kecantikan.

Seperti Michelle Halim, seorang influencer kecantikan yang mengklaim dirinya sebagai Menteri Kecantikan. Ia meluapkan keresahannya itu di Instastory setelah salah satu merek kecantikan terbesar di dunia, Victoria’s Secret (VS) mengunggah foto seorang model di akun resminya di Instagram.

“I miss VS angels (aku rindu model-model VS (yang dulu)), kenapa jadi begini sekarang?” tulisnya sambil menautkan unggahan VS dengan foto model plus-size Amerika Serikat, Devyn Garcia. Tak hanya itu, Michelle juga membandingkan pemain utama Gossip Girl yang dulu dan sekarang.

Dulu, kan, Serena van der Woodsen diperankan oleh Blake Lively. Kalau di Gossip Girl versi reboot, Serena diperankan oleh Jordan Alexander. Sebenarnya, sih, keduanya sama-sama menawan. Hanya saja, Jordan tampil berbeda dengan kepala polos alias gundul.

Michelle memakai template “from this-to this” dengan caption: “Kenapa jaman sekarang semuanya makin burik?” tulisnya. Ternyata enggak hanya Michelle yang resah. Kalau kamu pikir komentar itu terlalu pedas, berarti kamu belum lihat komentar lainnya dari Edbert Berlusconi.

Dengan foto Devyn yang sama, Edbert menambahkan caption: “Salah satu pertanda dunia udah mau kiamat,” katanya. Edbert juga tak mau ketinggalan dong buat memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap karakter Jordan yang tak punya rambut. “Apa-apaan?” katanya.

Edbert juga bilang ada salah satu pemeran laki-lakinya berambut merah muda. Buat Edbert, itu enggak banget. Yah, gimana, ya. Katanya, sih, mereka berdua berteman. Makanya, enggak heran kalau komentar-komentarnya enggak ada bedanya.

Tentu saja, mereka berdua jadi ‘bahan rujak’ warganet setelah itu. Banyak yang menuduh mereka telah melakukan body shaming terhadap kedua bintang tersebut. Ada pula yang bilang kalau Michelle hanya iri saja dirinya tak bisa mencapai level Devyn yang mampu bekerja dengan VS.

Ada yang mengungkit-ungkit soal operasi hidungnya. Ada juga yang bilang klaim diri MIchelle sebagai ‘Menteri Kecantikan’ sudah aneh sedari awal. Ada pula yang mengorek Instastory-nya yang bilang “otak butek enggak apa-apa, yang penting kulit enggak butek”.

Michelle enggak mau diam dong. Dia merespons tuduhan-tuduhan itu dengan dalih preferensi. Ia juga menyangkal tuduhan fatphobic karena punya tubuh yang bugar adalah motivasi membuat tubuh menjadi sehat.

Standar kecantikan dulu memanglah seseorang yang punya tubuh ramping dan bugar, putih, mulus, wajah tirus, hidung mancung. Pokoknya kayak potret-potret yang kamu lihat di Instagram.

Itu juga standar yang dibayangkan Ed Razek, seseorang yang berjasa atas fashion show VS. Dia suka menolak orang-orang yang tak sesuai dengan kriteria itu karena akan merusak fantasi.

Tapi, dia terbukti terseret kasus pelecehan seksual yang dilakukan pada model-modelnya. Artinya, standar kecantikan kayak begitu enggak lain dan enggak bukan hanyalah fantasi seksual laki-laki saja.

Kalau menengok unggahan-unggahan Michelle dan kecantikan ideal yang diharapkan mampang di panggung VS, sih, kayaknya itu standar menurutnya. Selera, sih, selera, tapi, ya, bukan dengan merendahkan orang lain juga dong.

Kata aktivis perempuan, Kalis Mardiasih, basis preferensi itu berasal dari pemikiran orang. Kalau dasarnya eksklusif, ya, memang eksklusif aja. Kata Kalis, orang-orang seperti itu adalah mereka yang living in bubble, yang kurang melihat keberagaman di sekitarnya.

Perlahan, standar kecantikan mulai berubah. Badan plus-size seperti Devyn kini mulai diperhatikan merek-merek kecantikan, tak terkecuali VS yang kini mengklaim ingin lebih inklusif terhadap keberagaman. Tuh, VS aja bisa menghargai kecantikan yang berbeda-beda.

Michelle bilang pengen dihargai pendapatnya karena punya standar kecantikan sendiri. Tapi, kenapa dia tak bisa menghargai keputusan VS untuk memilih menjadi inklusif dan memajang Devyn sebagai representasi wajah mereknya? [Andara Rose, narasi.tv]