Babat Sabuk Hijau Pantai Panjang, BPPHLHK Sumatera: Tak ada Tunggul Sisa Penebangan

Caption foto: Lokasi Kawasan Koservasi Muara Dua, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu sebelum di Babat.
Caption foto: Lokasi Kawasan Koservasi Muara Dua, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu sebelum di Babat.

Infonegeri, BENGKULU – Berdasarkan Surat Tugas Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Sumatera tanggal 17 Januari 2022 telah dilaksanakan kegiatan Verifikasi.

Verifikasi berlangsung pada tanggal 17-20 Januari 2022 karena ada dugaan pelanggaran atas penebangan atau pembabatan pohon sabuk hijau tsunami di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu.

Setelah dilakukan verifikasi oleh personil BPPHLHK Wilayah Sumatera Herlambang, Katimin, Rizki Fauzi dan Andrian Utama Putra bahwa dugaan penebangan atau pembabatan pohon sabuk hijau tsunami di Pantai Panjang tidak terbukti.

“Terkait dugaan penebangan atau pembabatan pohon sabuk hijau tsunami di kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang Kota Bengkulu tidak terbukti,” tulis Ditjen GAKKUM LHK melalui pesan email-nya kepada media ini, Rabu (09/02/2022) berdasarkan hasil keterangan BKSDA Bengkulu, Resort TWA Pantai Panjang.

Dalam verifikasi lapangan hasil keterangan BKSDA Bengkulu: Pertama berdasarkan keterangan BKSDA bengkulu, Resort TWA Pantai Panjang, BWSS VII dan PT NAB tidak ada penebangan, pohon tumbang disebabkan oleh abrasi dan ombak.

Kedua berdasarkan tinjauan lapangan terdapat pohon-pohon tumbang tidak beraturan dan tidak ditemukan tunggul sisa penebangan pohon.

Ketiga berdasarkan overlay oleh BKSDA Bengkulu, titik koordinat awal dan ujung pembangunan pengaman pantai didapatkan bahwa titik koordinat yang pertama berhimpitan dengan batas Kawasan TWA dan titik koordinat kedua berada di luar Kawasan TWA.

Sekilas informasi TWA Pantai Panjang

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII, waktu itu sedang melakukan pembangunan Bangunan Pengaman Pantai Panjang sepanjang 580 kilometer (Km) dengan menggunakan anggaran APBN sebesar Rp20.512.787.000, melalui PT. Bangun Kontruksi Jaya.

Pembangunan oleh BWS Sumatera VII waktu itu terlihat, Rabu (22/09/2021) membabat bersih pohon Sabuk Hijau Tsunami yang tersisa, sebelumnya pernah juga dilakukan PT. Noor Alif Bencoolen (NAB) lalu mendapatkan protes keras dari berbagai kalangan.

Pohon Sabuk Hijau Tsunami yang dibabat saat itu terlihat jauh mata memandang disapu bersih oleh buldoser PT. Bangun Kontruksi Jaya, walaupun demikian nampak pembabatan tidak mendapatkan protes dari manapun. Dan pohon tersebut juga terlihat hilang.

Disisi lain pihak PT.NAB, Ariyono Gumay, sebagai pengelola mendapat izin prinsip usaha penyediaan sarana wisata alam, diblok pemanfaatan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai seluas 20,00 ha tersebut ia mengatakan mengetahui pembabatan tersebut.

“Itu bukan wilayah PT. NAB, dan jika memang itu wilayah PT.NAB disitukan ada Pengawasan (BKSDA, red). Jika memang wilayah kita, bisa penamaan kembali.” ungkap Ariyono Gumay, saat dihubungi via WA, Rabu (22/09/2021).

Berbeda yang disampaikan pihak BKSDA, Resort TWA Pantai Panjang, yang mengatakan “Wilayah tersebut sepenuhnya tanggungjawab PT. NAB, apapun yang dilakukan pasti sudah ada persetujuan,” ungkapnya saat ditanya perihal pembabatan pohon Sabuk Hijau.

Diketahui sebelumnya, TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai berdasarkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia telah memberikan izin melalui Surat Keputusan Nomor: SK.988/Menlhk/Setjen/KSA.3/11/2019 kepada PT.NAB.

Keputusan tersebut merupakan lanjutan dari izin prinsip usaha penyediaan sarana wisata alam, diblok pemanfaatan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai seluas 20,00 Ha di Registrasi 91 Kota Bengkulu oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (Kepala BKPM) Nomor: 5/1/PP-IUPSWA/PMDN/2017 (11 April 2017).

Kemudian menyusun Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA) yang menjadi acuan usaha PT. NAB selama periode 55 tahun, juga telah disahkan oleh Dirjen KSDAE melalui Surat Keputusan Nomor: SK.100/KSDAE/PJLHK/KSA.3/3/2018 tanggal 2 Maret 2018 tentang Pengesahan RPPA atas Nama PT.NAB.

Setelah itu, tidak lama kemudian akhirnya menuai kontroversi dari berbagai kalangan seperti saat itu dari aktifis lingkungan atau dari kalangan Non Governmnet Organization (NGO) lingkungan beserta DPRD Kota Bengkulu, karena Sabuk Hijau Tsunami (pohon) dibabat oleh PT. NAB sebagai pengelola.

Dengan mendapatkan protes pengerjaan terhenti, kemudian PT. NAB melakukan penamaan (penghijauan kembali, red) di lokasi tersebut dengan tujuan agar dapat hijau kembali. Dan penamaan saat itu dihadiri oleh Dirjen KSDAE Ir.Wiratno, M.Sc, (07/08/2020).

“Jangan menebang pohon, coba peluk sebatang pohon, maka kalian akan merasakan arti hakekat sebatang pohon, rasakan detak jantungnya, rasakan nafasnya, rasakan aliran darahnya. Rasa itu seperti Ibu memeluk anaknya.” ungkapnya saat menghadiri penanam waktu itu. [Soprian]