Layu di Ujung Senja

Caption foto: Potret senja di Kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang di Kota Bengkulu (Foto/dok)
Caption foto: Potret senja di Kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang di Kota Bengkulu (Foto/dok)

Gemericik air tak terdengar lagi. Meski kemarau telah lama tak menjelang. Lembutnya irama daunpun kini senyap, seakan berteduh dalam naungan awan kelabu. Senjapun kini kian tak bermakna tanpa selaksa peristiwa di Negeri Tanah Mati, Kota Marlborough.

Tak tampak perubahan di Kota Marlborough ku, tatkala pagi maupun senja menjelang, selain kebisuan dalam kelembutan semu.

Bukanlah bangku berjejer berarti situasi, kondisi negeri ini dikatakan telah berubah. Bukan juga bangun gedung dipinggiran hutan yang jauh untuk kerakyatan. Goresan kisah ini ku tulisan dalam angan-angan bulan Mei 2024, dalam kelayuan di ujung senja.

Negeri Marlborough tak semarak lagi di ujung senja. Hilangnya pepohonan peneduh menghilangkan sejuk kota kelahiran Ibu Agung Fatmawati. Kegaduhan menoreh kemeriahan berbaur kebisingan yang tak jelas di akal, pilukan jiwa anak negeri.

Pembiaran dan membuang lancang akan norma dan kaedah tua, negeri ini jadi tak aman lagi. Teriakan kata ‘risau’ yang bermakna maling acapkali menganggu daun telinga. Mungkin ini karena lama termanggu akibat tekanan jemari merubah muka menjadi tak rapih.

Hembusan angin senai-senai nyaris menyingkap kerudung putih Hartika. Tapi itu tak berarti, karena lamunannya di Bukit Tapak Paderi tak menghilangkan rasa. Karena Hartika sadar, lamunan dengan ilhamnya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Melihat romantika kotanya yang berumur 305 tahun, Hartika gundah gulana. Apalagi saat melihat pernyataan politis, yang kagum akan kemajuan Kota Marlborough ini. Sekejab, rasa gundah gulana hilang, berganti gambaran parodi lelucon yang membuatnya tak tartawa, meskipun ia kepingin pipis.

“Ah, peristiwa rasa. Kota ku maju sejahterah dikatakan mereka yang tak pernah tahu fakta Kota Marlborough di masa lalu. Drama kata dengan menghancurkan bangku lama lalu membangun bangku yang serupa tapi tak sama, itu disebut suatu kemajuan?”

Biarlah Kota Marlborough ini layu di ujung senja. Harap-harap dapat segar kembali saat Sang Mentari bersinar mencuatkan aroma di Negeri Tanah Mati ini.

Pagi Lembut

Di kebisuan pagi, lembut sinar mentari membuat Hartika tetap mengingat kesadarannya dalam lamunan kemarin. Pagi ini ada hal yang bertambah.

Renungan kota Marlborough kini dibayangi cerita akan kekasih. Awalnya dirasa menganggu. Pikiran mencoba menyisihkan soal kekasih. Bukan tak butuh, hanya waktunya saja kurang pas.Tapi tak begitu pertimbangan rasa yang bersikeras untuk cerita kasih agar tetap ada pagi ini.

Mumpung pagi lembut, dingin masih bisa ditahan, mata Hartika tertatap pada tujuh tangkai bunga mawar baru mekar fajar tadi. Tak ada keinginan memegang apalagi memetik bunga mawar yang tumbuh di perkarangannya. Hartika paham, tangkai bunga indah itu berduri.

Air mata mengalir berlahan dan jatuh kelantai. Mawar dan kisah cintanya ternyata satu kisah. Sama cerita majunya Kota Marlborough yang ada di panggung parodi lelucon yang tak membuatnya tertawa, malah kepingin pipis.

“Ups…Untuk enggak ada yang tahu aku mau pipis. Bila ada yang tahu bisa bederai nih”. Sebuah lintasan nakal yang sempat melintas dipikiran Hartika.

Untung saja kalimat itu cuma ada dalam pikiran Hartika saja. Bila itu terucap dan terdengar sama pria binal, tentu sebuar teriakan akan terdengar. “Boleh juga tu, ikut dong ah ah ah ah!”

Tapi itu tak mungkin terjadi. Di hati Hartika bersarang luka yang meradang dan butuh obat yang mujarab, mungkin semujarab obat sulpa dinamit yang konon manjur. Paling tidak obat merah yang menetes di luka lama teringat kembali di pagi lembut ini.

Pedih nian memang akan cinta pada kekasih yang menghilang, usai tinggalkan kepedihan bercumbu rayu. Hartika menengadah dan mencoba sekejap menatap cahaya pagi lembut sebelum berlalu, di Negeri Tanah Mati, Bengkulu Kota Marlborough.

Berharap Bukan Mantan

Lamunan kisah kota dan cinta sejenak biarkan mereka berkecamuk tanpa hirauan. Hartika perempuan cantik bersepeda itu terus bekerja sebagai pengampas makanan ringan di warung manisan.

Hartika berharap perutnya akan tetap terisi. Selalu itu ia prioritaskan. Hartika takut dan sadar betul saat perut seseorang lapar, maka ke kuatiran lebih mengerikan akan terjadi. Seserorang perut lapar akan gampang berhalusinasi. Mulai dari yang radikal hingga berfikiran jorok.

Tak terasa, tiga senja sudah di laluinya. Senja di iringi hujan rintik-rintik menemaninya tiba dirumah kecilnya. Berharap sebelum mandi, tujuh tangkai mawar di perkarangan dapat sejenak menemaninya. Namun apa daya, indah mawar diraup masa. Mawar indah terkulai layu.

“Mawar telah terkulai layu. Kau biarkan sejuknya senja ini berlalu tanpa harapan seberkas sinar mentari membelai rasa di ujung senja. Biar, biar-biar berlalu layu kau mawar. Senyum, senyumlah kau hari ini Hartika”, Guman Hartika sejenak memandang bunga mawar yang kemarin membantunya menitikan air mata kepedihan akan luka lama.

Mandi sore Hartika sekali ini cukup lama dari biasanya. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi, selain terdengar suara air ledeng yang mengalir tanpa henti.

Mendadak pintu kamar mandi terbuka, saat suara handphone berbunyi tolalit-tolalit berkali-kali. Sebuah ajakan seorang teman, agar Hartika aktif dalam mengusung calon kepala daerah nanti. Senyum dan kalimat mudah-mudahan terdengar lirih dari Hartika akan ajakan temannya.

“Kuda Berbulu khabar dari Negeri. Makan Ketan Pulutnya Baru. Pilkada Bengkulu Sebentar Lagi, Lupakan Mantan, Pilih yang Baru”, pantun Hartika akhiri percakapan.

Hartika tampak bergegas membuka pintu jendela rumahnya. Di pandangnya langit, ternyata tak ada sinar purnama malam ini, selain beberapa bintang yang terkadang hilang timbul. Tapi malam ini Hartika meraca cerah, meskipun sinar purnama itu ternyata jelang malam ini ada dihatinya. Prosa yang ‘muancukladi’ memang!

Malahan sebuah ejekan dalam hatinya bilang, “Kau masih disana memandangi mawar? Di hatimu bersarang luka yang meradang dan betapa pedihnya cintamu menghilang? Ah…Malam ini akan aku ratakan”.

Dengan tubuh masih berhanduk, tangan di pinggang, Kota Marlboroug ini harus segera berubah. Pantunku tadi harus diwujudkan. Lamunan usaikan tanpa syarat.

Kota ini harus punya pemimpin baru yang punya niat membangun tanpa batas. Membangun dengan berbudaya, membangun dengan mengingat sejarah. “Tentu bukan memilih Sang Mantan yang sebaiknya kelaut aja. Termasuk mantan Narkoba”.

Benny Benardie | Cerpenis merupakan wartawan tinggal di Kota Bengkulu