Situs Sejarah Rumah Bubungan Tiga Bengkulu yang Hancur di Bank Indonesia

Caption foto: Rumah Bubungan Tiga bekas Rumah Perwira Inggris pada abad 18 dan 19 (Foto/dok: kemdikbud.go.id)
Caption foto: Rumah Bubungan Tiga bekas Rumah Perwira Inggris pada abad 18 dan 19 sebelum menjadi lahan parkir Bank Indonesia (Foto/dok: kemdikbud.go.id)

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri”. Begitupun dengan menghargai fakta sejarah yang menjadi bagian penting dari warisan budaya.

Begitulah harusnya kita memberlakukan situs sejarah di Provinsi Bengkulu, salah satunya Rumah Dr. Abu Hanifah Bubungan Tiga samping Bank Indonesia, berdasarkan SK Nomor: 120 tahun 2009, merupakan peninggalan masa kolonial Inggris, yang kini telah rusak.

Dengan tidak melupakan sejarah dari Rumah Bubungan Tiga, dengan cara menghargai kekayaan dan khasanah budaya bangsa, tentu juga akan menambah pendapatan negara melalui kegiatan wisata. Sebagai bukti nyata peristiwa sejarah yang dapat kita amati.

Pengrusakan situs sejarah di Provinsi Bengkulu sudah sering kali terjadi, belum lama ini Rumah Bubungan Tiga bekas Rumah dinas Perwira Inggris, yang dialih fungsikan, dan tidak menutup kemungkinan akan ada situs-situs sejarah lain akan dirusak.

Rumah Bumbungan Tiga yang dialih fungsikan (dihancurkan) merupakan dibangun pada zaman Inggris di Kota Bengkulu, dikenal sebagai “Rumah Adat Bengkulu”. Rumah ini dibangun pada masa kolonial Inggris di Bengkulu pada abad ke-18 dan ke-19.

Rumah tersebut memadukan gaya arsitektur Eropa dengan unsur-unsur lokal, seperti atap tiga tingkat yang khas. Ini adalah salah satu peninggalan bersejarah yang penting dan menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang populer namun telah hancur.

Pada masa itu, Inggris memiliki kepentingan perdagangan di Bengkulu, yang menjadi salah satu pos perdagangan penting di Hindia Belanda. Rumah Bumbungan Tiga merupakan bentuk adaptasi arsitektur Eropa dengan kondisi iklim dan budaya lokal Kota Bengkulu.

Perpaduan eropa dan lokal seperti atap bumbungan tiga yang menjadi ciri khas. Rumah tersebut diperkirakan dibangun untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal bagi pejabat Inggris atau penduduk setempat yang telah terpengaruh oleh budaya Eropa.

Selain sebagai tempat tinggal, Rumah tersebut juga diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi atau pusat perdagangan. Mereka menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan budaya Kota Bengkulu, mencerminkan periode kolonial dimasa itu.

Penulis: Soprian Ardianto, Wartawan di Kota Bengkulu