Teka-teki Rasa

Caption foto: Seorang Ayah saat menimbang (menggendong) anak perempuannya (foto/dok: pediatricsoffranklin)
Caption foto: Seorang Ayah saat menimbang (menggendong) anak perempuannya (foto/dok: pediatricsoffranklin)

Oleh: Goresan Riani

Rintihan hujan kian membasahi tubuh. Jari-jemari membeku menyeluruh, dingin bibir menggigil tak satu katapun terucap. Perasaan  takut, bingung, kehilangan, penyesalan. Hanya isak tangisan tak hentinya dengan air mata terus mengalir membasahi pipi. Melihat sosok seorang yang  amat ia cintai, seorang pahlawan dalam hidupnya,, satu satunya orang yang membuatnya bersemangat untuk hidup, kini berada dihadapan dengan tubuh berbaring tak sadarkan diri.

“Papa… papa… bangunnn.” Suara isak diiringi air mata berjatuhan, tak tahu apa yang harus dilakukan Amel seorang diri. Hujan semakin deras, terus mengalir tiada hentinya. Tak ada seorang pun yang lewat, Amel terus berteriak, namun tak ada yang mendengarnya dikarenakan gemuruh hujan yang mengalahkan suaranya.

RS. Rosalia

“sudah Mel… jangan nangis terus, do’akan yang terbaik buat papa”.

Rangkulan hangat Karin, seorang sahabat yang selalu menemani Amel setelah sekian lama menunggu papanya yang tak kunjung-kunjung sadar.

“Rin, kapan papa sadar ? Aku takut….”

Kalimat itu yang selalu Amel tanyakan berulang ulang dengan isakan tangisnya. Perasaan takut yang selalu menghantuinya. Mata indahnya sembab, bibirnya yang pucat karena air mata yang tiada hentinya mengalir.

Papanya adalah laki-laki yang luar biasa di mata Amel. Seorang laki-laki sejati yang selalu membahagiakan Amel. Semenjak ibunya telah tiada, papanya memberikan kasih sayang yang lebih padanya. Amel tidak memiliki saudara, jadi wajar papanya sangat memanjakan amel, walaupun usianya yang telah dewasa.

Waktu terus berjalan, namun tak ada sedikitpun tanda yang menunjukkan bahwa papanya sudah sadarkan diri.

“Mel, makan dulu ya… dari tadi kamu belum makan. Nanti, kalau kamu sakit, siapa yang jagain papaa….”

“Nanti aku makan Rin, aku mau nungguin papa dulu”

“Ya udah, aku suapin aja ya..? sambil nungguin papa” dengan perasaan terpaksa akhirnya Amel mengangguk.

Selang beberapa menit, paman dan bibi datang menjenguk, setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Amel dan juga papanya. Kedatangan paman Muri dan juga bibi Sari sangat di harapkan Amel. Karena merekalah satu satunya keluarga yang Amel miliki.

“Amel yang sabar ya. Banyak-banyak berdo’a buat papa.” ucap bibi sari memeluk ponakan tercintanya.

“Gimana kabar papa sekarang Mel? Apa sudah ada perubahan?” pertanyaan paman Muri membuat Amel terdiam dan menangis. Ia tidak bisa menjawab, justru membuat isaknya bertambah.

“Saat ini belum ada perubahan om, kata dokter komanya cukup lama karena benturan di kepalanya.” jawab Karin.

“Karin udah dari tadi nungguin Amel, om terima kasih banyak sama Karin. Sekarang, Karin pulang dulu istirahat, besok kesini lagi.”

Karin menuruti apa yang dikatakan paman Muri, dan berpamitan  kepada sahabatnya untuk pulang.

Berhari-hari dirumah sakit, Amel selalu menyalahkan dirinya. Ia menganggap  penyebab sakit papanya dikarenakan kesalahanya. Hari itu genap usianya 20 tahun, Amel selalu membujuk papanya untuk keluar, karena hari itu adalah hari yang spesial baginya. Ternyata hari itu menjadi hari yang tak di inginkan Amel.

“Ini semua karena Amel bik, kalau seandainya Amel gak ngajak papa keluar hari itu, papa gak akan terbaring di Rumah Sakit seperti ini.”

“Ini semua sudah takdir yang Maha Kuasa mel. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, gak baik. Allah sedang memberi kita ujian, maka kita harus bersabar dan terus berdo’a, bukan menyalahkan diri yang tidak bersalah.” berbagai cara bibi Sari selalu berusaha menenangkan Amel. Memberinya nasehat agar dia tidak menyalahkan dirinya terus menerus.

Pagi-pagi buta setelah shalat subuh, Amel duduk bersandar membuka layar HP. Ada satu pesan yang membuat Amel terkejut, ia gagal masuk Universitas Greenwich. Salah satu Universitas terkenal di London. Hanya karena tidak mengikuti interview dua hari yang lalu. Padahal Universitas Greenwich adalah Impian awal untuk melanjutkan studinya. Amel benar-benar menyiapkannya dengan matang. Juga mengikuti kursus Bahasa Inggris dan ia pun lulus ujian TOEFL dengan nilai tinggi. Bahkan paspor sudah ia urus dengan baik. Dua hari yang lalu adalah hari dimana posisi Amel sedang tidak baik, hampir lupa segalanya, apalagi jadwal interview tidak ada lagi dalam pikirannya. Hanya ada papa dan papa dalam pikirannya.

Kembali untuk pulang

Rasa ini tak mampu di ucapkan, hanya menyesakkan jiwa dan pikiran. Tak sanggup untuk melihat dan mendengar apa yang telah terjadi. Ia hanya ingin merasakan bahwa ini hanya ilusi.

Hari itu, hari dimana amel tak percaya dengan garis yang sudah Allah tetapkan. Ia berharap ini semua hanya mimpi. Namun, inilah nyatanya yang asli, tak dapat di pungkiri, Amel harus siap menguatkan diri menerima takdir yang telah terjadi. Papa yang sangat ia cintai telah Kembali kepada sang Rabbi.

Tiga tahun sebelumnya. Amel kehilangan seorang mama, dan kini Amel harus merelakan kepergian papanya. Amel benar-benar terpuruk, tak ada alasan untuk bertahan hidup. Di matanya, ia tak memiliki siapa-siapa lagi.

Setelah kehilangan papanya, Amel hanya berdiam diri di rumah. Sunyi, sepi, kehilangan, hancur, terpuruk, menangis, tak ada harapan, jatuh, meramaikan pikiran dan mengusik kehidupan amel.

“Assalamu’alaikum…? Amel…Amel….” lagi-lagi sahabatnya yang selalu datang menemui Amel. Namun, kali ini tidak ada suara sahutan dari Amel. Berulang ulang kali memanggil, juga tak ada jawaban. Biasanya Amel selalu dirumah. Karin merasakan hal yang tidak enak. Dikhawatirkan Amel sakit. Karin langsung membuka pintu dan ternyata pintunya tidak di kunci. Ia berlari ke kamar Amel namun ternyata Amel tidak ada di kamar. Semua ruangan ia periksa namun tak juga ditemukan. Hanya kamar  papanya dilantai atas belum ia periksa. Berlari menaiki anak tangga dengan cepat. Membuka pintu. “Amel..!!!” Karin sangat terkejut melihat sahabatnya sudah berbaring di lantai dengan mulut penuh busa akibat obat racun yang ia minum. Pikiran panik tak karuan. Menghubungi paman muri, namun tak ada balasan. Tanpa pikir panjang,  sesegera mungkin Karin menghubungi rumah sakit. Alhamdulillah pihak rumah sakit langsung segera mengirim ambulance.

“Amel…, bangun Mel, ayo bangun..” dengan suara isak tangisnya, Karin memukul pipi Amel agar dia sadar. Akan tetapi obat yang ia minum sudah membuatnya tak sadarkan diri.

Kedua kalinya Karin mengunjungi rumah sakit itu. Dulu ia menemani Amel menjaga papanya, kini ia datang kembali menjaga Amel sahabatnya.

“InsyaAllah saudari Amel baik baik saja. Sekarang ia hanya butuh istirahat. Alhamdulillah segera dibawa kesini, jadi tidak membahayakan karena racunnya belum menyebar di organ dalam.” ucap dokter Fani yang membuat hati Karin merasa lega.

Kurang lebih satu jam Karin menunggu, akhirnya Amel sadarkan diri dan boleh di bawa pulang.

“Maafkan aku Rin, sudah buat kamu panik. Aku kira dengan apa yang aku lakukan ini hidupku akan selesai sama halnya seperti papa. Justru semua  ini salah besar  Rin. Aku janji gak akan ngulangi lagi. Terima kasih sudah menjadi sahabatku, walaupun aku selalu menyusahkanmu, tapi kamu selalu hadir membantuku.” perkataan Amel dengan penuh penyesalan.

Sahabat bukan dia yang datang ketika butuh, tapi dia yang selalu ada saat kita terjatuh. Sahabat bukan dia yang merapuhkan hati, tapi dia yang selalu menguatkan hati.

Catatan Amel:

Hari ini aku bangkit dari keegoisan diriku sendiri, tidak akan membiarkan diriku jatuh karena kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Papa, aku sangat sayang padamu. Tapi ternyata ada yang lebih menyangimu, dan berhak atasmu. Ternyata, dari sekian butiran air mata yang jatuh dipipiku selama ini, bisa berhenti saat aku bisa mengikhlaskanmu.

“Mel…baik baik disana ya, sering kabari aku. Walaupun jarak kita jauh, kita masih bisa Video Call. Semoga Impian kamu selama ini bisa tercapai.” Ucap Karin melepas kepergian sahabatnya.

Amel akan melanjutkan mimpinya  di Univertas  Turki, fakultas kedokteran. Rencana Allah sungguh indah. Amel gagal masuk universitas di London tapi Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Yang mana turki masih dalam negara islam. Allah sayang Amel, dan tahu mana yang terbaik buat hambanya.

Menyaksikan indahnya Turki, tak dapat di gambarkan dan sejarah yang sangat mengesankan. Setiap liburan, Amel selalu mengelilingi kota Turki. Istanbul, Hagia Shopia, Cappadocia, Camlica Hills bukan hanya dari cerita, kini Amel menyaksikannya langsung di depan mata. Merasakan kehidupannya benar benar hidup.

Kagiatan Amel semakin hari semakin padat dengan praktek, sampai ia lupa bahwa baru saja Amel kehilangan orang tercintanya.

Berjalan dua tahun Amel di Turki, ia mengira bahwa  semuanya akan sesuai dengan harapan. Qadarullah, Allah memberikan ujian kepada Amel. Yang mana ujian itu membuat Amel merasa jatuh yang kedua kalinya. Paman Muri mengabarkan bahwa Perusahaan peninggalan papa bangkrut karena sebab penipuan. Sedangkan biaya kuliah Amel selama ini berasal dari Perusahaan papa.

Pikiran Amel benar benar buntu. Dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk kuliah. Selama ini ia hanya menghabiskan uang semaunya. Tidak terbesit sedikitpun di pikirannya bahwa ini akan menjadi masalah baginya.

Tidak ada pilihan lain, menjadi dokter adalah impianya. Dengan berat hati, terpaksa menjual rumah peninggalan orangtuanya. Akan tetapi semuanya sia-sia, dan berujung penyesalan. Uang yang di dapatkan tidak bisa menutupi biaya kedokteran. Pada akhirnya mimpi itu kandas di tengah jalan.

Ponsel Karin. Berdering.

“Rin, kamu dimana? Bisa jemput aku di Bandara nggak?” pertanyaan Amel yang membuat Karin bertanya tanya keheranan.

“Aku dirumah Mel, jemput ke Bandara? kamu gak mimpi Mel?”

“Nggak Rin, pokoknya jemput sekarang! Nanti aku ceritain.”

“Ya udah deh aku siap-siap.”

Karin langsung bergegas dengan honda jazz merah pemberian dari Amel, sebelum pergi ke Turki. Melaju dengan kecepatan tinggi. Tak sabar ingin bertemu sahabat karibnya  menggugurkan rasa kangen selama dua tahun tak bertemu.

“Amell….” teriakan Karin dari kejauhan membuat Amel meneteskan air matanya.” Kariinnn..” keduanya langsung berpelukan. Kini Amel rasakan kembali pelukan hangat dari seorang sahabat.

Amel pulang ke rumah sahabatnya.  Dan menceritakan semua apa yang terjadi padanya. Sebagai seorang sahabat, Karin merasa sedih dengan apa yang barusan di ceritakan Amel.

Rumah Karin menyejukkan hati Amel. Melihat Karin berkumpul bersama adik-adiknya, Amel merasakan kedamaian didalamnya. Karin sahabat yang luar biasa. Ia adalah tulang punggung keluaraga. Menyekolahkan  ketiga adik-adiknya dari yang SD, SMP, hingga SMA.

Amel tak ingin larut dalam kesedihan. Mulai bangkit lagi kehidupan yang baru. Membuka kursus Bahasa Inggris  di rumah Karin dan mengikuti rutinitas kajian setiap hari jum’at.

Kini, Amel lebih banyak bersyukur. Masih diberikan kesempatan berbuat kebaikan. Dia sadar, ternyata bahagia enggak harus menjadi dokter lulusan London maupun Turki. Disini ia bisa bahagia menolong sahabatnya  sendiri.

“Mel, kamu yakin mau ta’arufan?” Karin terkejut mendengar perkataan Amel yang ingin mencari pasangan hidup lewat ta’arufan.

“Iya Rin, Setelah mendengar kajian ustadz Anwar, aku yakin dengan pilihanku.”

“Kamu engak takut, Mel? Itu orang asing lo! Kamu belum tahu dia orang baik-baik atau bukan.”

“ Justru itu Rin, kan ustadz tau mana yang baik dan yang buruk..”

“ Terus, yang ngirim CV kamu duluan Mel? bukan yang cowok?”

“Iya, aku ingin memberanikan diri seperti Khadijah melamar Rasulullah.” Jawaban Amel  membawa nama Khadijah mematikan lawan bicara.

“Ya udah deh, kalau itu sudah jadi keputusan kamu Mel, aku akan dukung.”

“Tapii… hari jum’at besok, temenin aku ya… ngomong sama ustadz Anwar. Hehehe… pliisss..” Amel mencoba merayu sahabatnya dengan wajah yang menggemaskan.

Hari yang di tunggu tunggu Amel telah tiba, hari dimana Amel akan memberanikan diri menjadi seorang Khadijah.

Selesai pengajian, Karin membisikan ditelinga Amel.” Mel, ayo… keburu ustadznya pergi..” Karin gregetan dengan Amel yang gak mau bangkit dari tempat duduknya.

“Iya Rin, bentar. Baru aja selesai kajian. Masih banyak orang malu tau….”

Karin  berusaha menarik tangan Amel agak iya gercep untuk bangkit. Sesampainya di hadapan ustadz Anwar. Karin dan Amel diam membeku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Ustadz Anwar yang ada di hadapan nya kebingungan melihat tingkah Karin dan juga Amel.

“Kalian mau bertanya tentang materi tadi?” tanya ustadz Anwar mencoba memecahkan keheningan.

“Bukan ustadz.” Karin langsung menjawab pertanyaan ustadz begitu cepat.

“Maaf ustadz, maksud kamiiiii….” Amel mencoba menjelaskan maksud kedatangannya dan  mengatakan sejujur jujurnya keadaan dia kepada ustadz.

“Masya Allah nak, siapa namamu?” tanya ustadz Anwar penasaran.

“Amelia Azzahra ustadz.” Jawab amel dengan nada rendah.

“Besok malam saya akan kerumah Amel dengan calon yang insya Allah akan menjadi suami Amel.” jawaban ustadz Anwar yang begitu santai membuat Karin dan Amel keheranan.

“Saya duluan ya, Assalamu’alaikum…” ustadz Anwar langsung pergi padahal Amel belum memberitahu alamat tempat tinggalnya. Amel dan karin benar-benar gak tahu apa yang di maksud ustadz Anwar.

Keesokan harinya, Amel dan Karin pergi ke toko roti membeli jenis-jenis kue untuk persiapan nanti malam, jika ustadz Anwar benar-benar akan datang.

Di pertengahan jalan, melewati perumnas. Amel teringat akan rumahnya. Meminta Karin untuk berhenti disana. Amel ingin melihat rumahnya yang dulu ia tinggal disana bersama papanya.

Karin menuruti permintaan Amel. Sesampai di depan rumah itu, Amel dan Karin  sangat terkejut dengan keadaan rumah itu. Bola mata Amel terpana dengan tulisan Rumah Tahfidz Baburrahman. Rumah itu telah menjadi rumah para penghafal qur’an.

“Rin, aku bahagia dengan apa yang aku lihat. Aku gak nyesel jualnya, selama ini aku nabung dengan niat ingin membeli rumah ini kembali. Tapi hari ini, akan aku batalkan niat itu.”

Perasaan Amel begitu tenang dengan menyaksikan rumahnya yang dulu menjadi rumah para penghafal Al-quran.

Malam yang di nanti nantikan kunjung tiba. Ustadz Anwar benar benar datang membawa seorang pemuda dibelakangnya. Paman Muri menyambut kedatangan mereka dengan sangat akrab seperti bertemu dengan teman lamanya. Tak ada sikap asing di antara mereka. Yang Amel  sangat herankan, ustadz Anwar  mengenal paman Muri.

Ta’arufan pun berlangsung. Setelah mengetahui satu sama lain, Amel baru paham dengan sifat ustadz di pengajian tadi, dan sikap keakraban mereka. Ternyata, ustadz Anwar adalah teman papanya Amel, yang membeli rumah Amel saat itu. Dan yang akan di perkenalkan ustadz bukanlah orang asing melainkan anaknya sendiri Muhammad Azril Rakhshan.

Malam itu bukan sebatas ta’arufan. Melainkan nadzor dan khitbah. Amel dan Azril di pertemukan  saling lihat satu sama lain. Dari segi fisik Amel memiliki kecantikan yang lebih, dengan bulu mata yang lentik dan warna kulit yang putih. Begitu juga Azril wajah yang memiliki lesung pipi membuatnya manis, dan memiliki tubuh yang tinggi. Keduanya saling melengkapi. Dari kedua belah pihak bersepakat bahwa pernikahan akan di segerakan.

Tanggal 15 November 2015. Amel dan Azril melangsungkan pernikahnnya.  Ketika penghulu mengucapkan “SAHHH!!” seluruh orang yang hadir serentak mengucapkan “ SAAHHH… Alhamdulillah.” Amel mencium tangan suaminya dan Azril membalas dengan mencium kening istrinya.

Hari itu adalah hari penuh kebahagian. Hari dimana Amel mendapat keluarga baru, mendapat kasih sayang dari mertua seperti kasih sayang mama dan papanya. Bulan selanjutnya, Amel dan Azril akan pergi umroh sebagai hadiah pernikahan dari orangtua nya.

“Kemuliaan terbesar kita bukanlah dalam tidak pernah gagal, tetapi dalam bangkit setiap kali kita gagal.” ~ Konfusius~