Saat Mahasiswa di Daerah Lain Bergerak, Bengkulu Masih Sunyi

Juni 18, 2026 Oleh infonegeri DAERAH, KOTA BENGKULU, NEW
Caption foto: Demo Mahasiswa di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu (Foto/dok: Irfan Arif)

Caption foto: Demo Mahasiswa di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu (Foto/dok: Irfan Arif)

Infonegeri, BENGKULU – Gelombang demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat yang memprotes sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam sepekan terakhir terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di Bengkulu. Hingga kini, belum tampak aksi serupa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun organisasi kepemudaan di daerah ini.

Di berbagai kota, mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keresahan atas sejumlah persoalan nasional, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok, kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil, hingga kebijakan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, kebijakan ekspor CPO satu pintu, serta pembahasan RUU Polri yang dinilai sebagian kalangan berpotensi mempersempit ruang sipil.

Di tengah menguatnya kritik di berbagai daerah, absennya gerakan mahasiswa di Bengkulu menimbulkan pertanyaan mengenai sensitivitas dan keberpihakan gerakan kemahasiswaan terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Penggiat HAM dan Demokrasi, Oky Alex S, SH, menilai masyarakat masih menaruh harapan besar kepada mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki kapasitas membaca persoalan bangsa dan menyuarakan aspirasi publik.

“Masyarakat punya harapan kepada mahasiswa untuk menyuarakan kegelisahan yang terjadi. Soal bagaimana mahasiswa menjalankan perannya sebagai intelektual tentu kembali kepada mahasiswa itu sendiri. Tetapi mahasiswa harus tetap kritis melihat persoalan yang sedang terjadi,” ujar Oky, Kamis (18/06/2026).

Menurutnya, mahasiswa memiliki kemampuan analisis dan cara pandang yang berbeda dalam membaca dinamika sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu, kehadiran mereka dalam ruang demokrasi tetap dibutuhkan sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial.

“Ketika muncul aksi di berbagai daerah, itu merupakan bentuk respons terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan yang dinilai perlu dievaluasi. Mahasiswa sebenarnya memiliki analisis sendiri atas kondisi bangsa hari ini,” katanya.

Oky mencontohkan sejumlah kampus besar di Indonesia yang mulai menyuarakan evaluasi terhadap program-program pemerintah sebagai bagian dari fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan negara.

Ia mengingatkan bahwa berbagai keluhan yang berkembang di masyarakat tidak boleh berhenti menjadi obrolan di ruang-ruang informal tanpa adanya saluran yang lebih terorganisasi.

“Mahasiswa adalah agen perubahan dan corong aspirasi masyarakat. Di akar rumput banyak suara yang muncul, tetapi sering hanya berhenti di warung kopi, di sawah, atau ruang-ruang informal lainnya. Keresahan itu seharusnya bisa ditangkap dan disuarakan lebih kuat kepada pemerintah,” tegasnya.

Menurut Oky, diamnya gerakan mahasiswa di tengah menguatnya perdebatan publik berpotensi menciptakan kesan bahwa kampus kehilangan sensitivitas terhadap persoalan kebangsaan. Padahal, dalam sejarah demokrasi Indonesia, mahasiswa selalu hadir sebagai kekuatan moral yang kritis dan menjadi penghubung antara kegelisahan masyarakat dengan pengambil kebijakan.

“Jangan sampai isu dan persoalan masyarakat mandek dan tidak tersampaikan. Peran mahasiswa sebagai kelompok terpelajar dan intelektual tetap dibutuhkan untuk menjaga ruang demokrasi dan menyampaikan aspirasi publik,” tutupnya.

Pewarta | Soprian Ardianto

Share Artikel

Tags: